JAKARTA — Senin, 20 Juli 2026
PT PLN (Persero) bersama Danantara Indonesia mulai menyiapkan gelombang kedua megaproyek surya nasional. Dalam kegiatan market sounding atau konsultasi pasar yang digelar pada Jumat (17/7/2026), PLN memaparkan rencana pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Mentari Nusantara II dengan total kapasitas 1.397 megawatt (MW) — lebih besar dari pendahulunya, Mentari Nusantara I (1.225 MW), yang tendernya telah diluncurkan pada 30 April 2026. Forum semacam ini lazim digelar untuk menjaring masukan dan mengukur minat calon pengembang (Independent Power Producer/IPP) sebelum dokumen lelang resmi diterbitkan.
Berdasarkan materi konsultasi pasar tersebut, Mentari Nusantara II mencakup 35 kuota proyek yang terdiri atas PLTS murni dan PLTS yang dipadukan sistem penyimpanan energi baterai (PLTS+BESS), dengan titik interkoneksi di sistem 150 kV maupun 20 kV. Jangkauannya nyaris menyentuh seluruh Nusantara — secara harfiah dari Sabang sampai ujung timur Papua.
Kalimantan Terbesar, Kepulauan Kecil Tak Terlewat
Berdasarkan penjumlahan tabel kuota dalam materi paparan, Kalimantan menjadi wilayah dengan porsi terbesar sekitar 685 MW, ditopang paket-paket jumbo seperti Kalbar-2B dan Kalseltengtimra-5 masing-masing 160 MW, Kalseltengtimra-3A dan 3B masing-masing 120 MW, serta Kalbar-2A 80 MW. Kawasan Jawa menyusul dengan sekitar 310 MW melalui tujuh kuota di Banten (140 MW), Jawa Barat (120 MW), dan Jawa Timur (50 MW).
Sumatera kebagian sekitar 263 MW, termasuk paket Sumatera 3 sebesar 150 MW yang terhubung ke GI Bagan Batu, GI Muntok, dan GI Air Anyir. Sisanya tersebar di Nusa Tenggara sekitar 80 MW (Sumbawa-Bima, Flores, dan Timor) serta Maluku-Papua sekitar 59 MW yang mencakup Ambon, Bula, Sorong, Raja Ampat, Nabire, Fak-Fak, Teminabuan, hingga Bintuni.
Menariknya, daftar kuota juga memuat proyek-proyek berskala sangat kecil untuk sistem kelistrikan kepulauan, seperti Sabang yang hanya 0,3 MW, Sinabang I dan II masing-masing 2 MW, Kepri 4 MW, serta Raja Ampat dan Teminabuan masing-masing 3 MW — umumnya dipasangkan dengan BESS dan tersambung ke sistem 20 kV. Pola ini menunjukkan proyek tidak hanya mengejar skala, tetapi juga pemerataan akses energi bersih hingga ke sistem-sistem isolated di daerah terpencil.


Mekanisme Lelang: Satu RFP, Penawaran Maksimum 250 MW
Meneruskan pola GIGA ONE pada jilid pertama, pengadaan Mentari Nusantara II tetap memakai satu dokumen Request for Proposal (RFP) yang mencakup seluruh proyek sekaligus, dengan sejumlah ketentuan pokok:
- Metode penawaran satu tahap dua sampul, dengan satu tanggal penyampaian yang sama untuk seluruh proyek.
- Peserta dapat berupa perusahaan tunggal maupun konsorsium.
- Kriteria finansial berupa kekayaan bersih (net worth) yang bersifat akumulatif bila menawar lebih dari satu proyek.
- Kriteria teknis berupa pengalaman proyek minimum 10 persen dari kapasitas yang ditawarkan, berbasis pengalaman satu proyek (single project experience).
- Peserta boleh mengajukan proposal untuk satu atau lebih proyek — satu proposal per proyek — dengan batas maksimum penawaran 250 MW.
- Evaluasi dilakukan terpisah per proyek: Sampul 1 dinilai dengan metode lulus/gugur (pass/fail), dan hanya peserta yang lolos yang Sampul 2-nya dibuka dan dievaluasi.
Pemenang lelang — bersama subholding PLN apabila ikut berpartisipasi — akan membentuk perusahaan proyek (Special Purpose Company/SPC) untuk masing-masing proyek, dan setiap SPC menandatangani Perjanjian Jual Beli Listrik (PPA) dengan PLN. Ketentuan batas penawaran 250 MW dan dibukanya pintu konsorsium menjadi pembeda yang mencolok dari mekanisme jilid pertama, yang tampaknya dirancang agar kue proyek terdistribusi ke lebih banyak pengembang.
Kelanjutan Blueprint GIGA ONE
Kehadiran Mentari Nusantara II sejalan dengan pernyataan PLN saat meluncurkan jilid pertama. Ketika itu, Direktur Manajemen Proyek dan EBT PLN Suroso Isnandar menyebut GIGA ONE sebagai cetak biru (blueprint) baru pengadaan energi terbarukan di Indonesia, dan Mentari Nusantara I sebagai penggerak awal menuju target pemerintah membangun PLTS berkapasitas 100 GW yang digagas Presiden Prabowo Subianto. PLN juga menyatakan strategi pengadaan terintegrasi ini akan direplikasi ke pembangkit hidro, bayu, dan sistem penyimpanan energi baterai.
Perlu dicatat, hingga artikel ini disusun, PLTS Mentari Nusantara II masih berada pada tahap market sounding — yang digelar 17 Juli 2026 — dan belum diberitakan media maupun diumumkan melalui siaran pers resmi PLN, sehingga rincian seperti jadwal tender, target operasi komersial, dan nilai investasi masih menunggu pengumuman resmi. Angka dan ketentuan dalam artikel ini bersumber dari materi paparan kegiatan tersebut.
Sumber Berita
- Kegiatan Market Sounding PLTS Mentari Nusantara II (1.397 MW), PT PLN (Persero) & Danantara Indonesia, Jumat, 17 Juli 2026 — sumber primer artikel ini (belum tersedia tautan pemberitaan/siaran pers daring per 20 Juli 2026).
- Materi paparan “Market Consultation – PLTS Mentari Nusantara II (1.397 MW)” dari kegiatan tersebut — sumber utama data kuota, titik interkoneksi, dan mekanisme pengadaan; termasuk seluruh foto/gambar dalam artikel ini.
- Siaran Pers PLN No. 087.PR/STH.01.05/V/2026 (1 Mei 2026) — “PLN Luncurkan Proyek PLTS Mentari Nusantara I 1,225 Gigawatt melalui Strategi Pengadaan Terintegrasi GIGA ONE”: web.pln.co.id
- Tempo.co (1 Mei 2026) — “PLN Buka Tender PLTS Mentari Nusantara I 1.225 GW”: tempo.co
- CNBC Indonesia (1 Mei 2026) — “PLN Luncurkan Proyek PLTS Mentari Nusantara I 1,225 Gigawatt”: cnbcindonesia.com
- Kontan.co.id (3 Mei 2026) — “Proyek PLTS 1,225 GW PLN Dimulai, Ini Tantangan di Skema Giga One”: industri.kontan.co.id